SUMATERA UTARA — PLN Indonesia Power Group memperkuat bisnis pemeliharaan pembangkit (MRO) hingga penyimpanan energi baterai (BESS) untuk membidik pasar Asia Pasifik. Perseroan meneken tiga kolaborasi strategis, salah satunya proyek dedieselisasi di 10 lokasi terisolasi Sulawesi Tengah bernilai Rp 3,3 triliun. Langkah ini disebut untuk memperkuat industri pendukung dalam negeri sekaligus menekan biaya penyediaan listrik.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyatakan rangkaian kerja sama itu menunjukkan transisi energi tak sekadar menambah kapasitas pembangkit energi baru terbarukan. Menurut dia, keandalan aset, industri pendukung, teknologi, dan kompetensi nasional juga menjadi bagian yang harus dibangun bersamaan.
"Kami ingin transisi energi memberikan nilai tambah yang lebih luas. Bukan hanya menghadirkan energi yang lebih bersih, tetapi juga menciptakan efisiensi, memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan TKDN, dan membangun kapabilitas Indonesia agar semakin kompetitif di tingkat regional," kata Bernadus dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Kolaborasi pertama dijalin PLN Indonesia Power dengan PT ACE Energy Service (ACEES). Keduanya menggarap proyek dedieselisasi di 10 lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah.
Proyek tersebut berpotensi menghasilkan kapasitas PLTS 60 MWp dan BESS 200 MWh. Estimasi investasinya mencapai Rp 3,3 triliun dan direncanakan didukung pembiayaan dari konsorsium perbankan Korea serta Indonesia.
Dari sisi kandungan lokal, proyek ini diarahkan memakai panel surya produksi dalam negeri dari Trina Mas Agra Indonesia. Potensi penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) diperkirakan mencapai sekitar Rp 1.000 per kWh, bergantung pada karakteristik sistem kelistrikan di tiap lokasi.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Indonesia Power Julita Indah menuturkan integrasi PLTS dan BESS menawarkan solusi relevan bagi wilayah yang selama ini bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel.
"Integrasi PLTS dan BESS memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan menekan ketergantungan terhadap bahan bakar diesel. Dengan sistem penyimpanan energi, pasokan listrik dari PLTS dapat dikelola lebih optimal sehingga keandalan sistem tetap terjaga sekaligus memberikan potensi efisiensi biaya penyediaan listrik," ujar Julita.
Bagi pelanggan di wilayah terisolasi, perubahan ini berarti pasokan listrik tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan solar yang rentan terhadap fluktuasi harga dan biaya angkut. Sistem penyimpanan baterai memungkinkan listrik dari panel surya tetap tersedia saat matahari tidak bersinar.
Di sisi pengelolaan aset, anak usaha PLN Indonesia Power, PLN Indonesia Power Services (PLN IP Services), menjalin kolaborasi dengan PT ABB Sakti Industri. Kerja sama ini memperkuat layanan pemeliharaan dan pengadaan generator, motor, serta Variable Speed Drive (VSD)/inverter.
Penguatan kapabilitas MRO nasional menjadi kunci untuk menjangkau pasar Asia Pasifik. Selama ini layanan pemeliharaan pembangkit skala besar kerap dikerjakan vendor asing, sehingga penguasaan teknologi dan kompetensi lokal menjadi prasyarat agar industri dalam negeri bisa bersaing di tingkat regional.
Tiga kolaborasi yang diteken bersamaan menunjukkan arah bisnis PLN Indonesia Power tidak lagi terbatas pada jual beli listrik. Perseroan bergerak ke rantai nilai yang lebih luas: membangun pembangkit terbarukan, menyediakan penyimpanan energi, sekaligus menjual jasa pemeliharaan aset kelistrikan ke pasar lintas negara.