SUMATERA UTARA — Enzo Le Fée menjelma jadi kreator utama Sunderland di balik bayang-bayang kapten Granit Xhaka. Gelandang Prancis berusia 26 tahun itu menuntaskan lebih banyak lari dan jarak tempuh daripada 93 persen pemain di posisinya pada musim perdananya di Premier League.
Stadium of Light punya magnet baru. Setahun setelah Kyril Louis-Dreyfus mendatangkan Granit Xhaka dari Bayer Leverkusen, Sunderland justru menemukan aset jangka panjang lewat pemain yang datang tanpa sorotan sebesar kapten timnas Swiss itu.
Le Fée tiba di Wearside pada Januari 2025 dengan status pinjaman dari AS Roma. Klub berjuluk Black Cats itu saat itu masih berjuang di Championship, dan kedatangan pemain berlabel Prancis U21 tersebut sempat dianggap sebagai langkah nekat.
Le Fée mengaku tidak menikmati sepak bola selama membela Roma. Ia butuh kepercayaan diri baru, dan Régis Le Bris disebutnya sebagai sosok yang bisa mengembalikan performa terbaiknya.
"Saya berada di Roma, saya agak sedih karena tidak menikmati sepak bola," kata Le Fée kepada Opta Analyst sebulan setelah menyelesaikan masa pinjamannya.
"Saya ingin menemukan kepercayaan diri lagi, jadi saya datang ke sini, karena saya tahu [Le Bris] bisa memberi saya segalanya yang saya butuhkan untuk tampil di lapangan."
Keputusan itu terbukti tepat. Setelah Sunderland menembus Premier League lewat kemenangan dramatis di Wembley, status pinjaman Le Fée diubah menjadi permanen dengan nilai 19,3 juta poundsterling — rekor transfer klub saat itu.
Musim perdananya di Premier League tidak berjalan mulus. Cedera membatasi kontribusinya, dan ia sempat dicoret dari starting XI saat menghadapi West Ham United di laga pembuka. Noah Sadiki yang tampil impresif di pramusim mengambil tempatnya.
Le Fée merespons dengan kerja keras. Data FotMob mencatat ia menuntaskan lebih banyak lari dan menempuh jarak lebih jauh daripada 93 persen pemain di posisinya. Ia bermain penuh di 22 dari 23 penampilan terakhirnya di Premier League musim 2025/26.
Gol dan assist penting melawan Brentford, Bournemouth, dan Liverpool menegaskan perannya sebagai outlet kreatif utama Sunderland. Total lima gol dan enam assist di musim debutnya di kasta tertinggi memang bukan angka luar biasa, tapi dampaknya terasa di setiap lini serang.
Xhaka tetap menjadi wajah Sunderland. Gelandang 33 tahun itu disebut-sebut sebagai salah satu rekrutan terbaik dalam sejarah klub, dan perannya mengubah Sunderland dari kandidat degradasi menjadi tim yang kembali berlaga di Eropa setelah lebih dari 50 tahun.
Namun rumor kepindahan Xhaka ke Chelsea untuk bersatu dengan Xabi Alonso sempat mencoreng reputasinya di mata sebagian suporter. Meski laporan soal transfer itu simpang siur, ada indikasi keinginan dari pihak pemain untuk hengkang.
Di sisi lain, Le Fée baru menginjak usia 26 tahun dan sedang memasuki puncak karier. Selama performanya stabil di bawah asuhan Le Bris — yang ia sebut sebagai figur ayah — ia bisa menjadi penghuni tetap lini tengah Sunderland untuk bertahun-tahun ke depan.
Sunderland kini melakoni perjalanan di Europa League dengan lawatan ke markas AC Milan, Anderlecht, dan Lech Poznan. Catatan historis berpihak pada mereka: delapan klub Inggris terakhir yang lolos lewat posisi liga semuanya melewati fase grup atau fase liga, enam di antaranya mencapai perempat final, dan Aston Villa menjuarainya musim lalu.
Jika Sunderland kembali membuat kejutan, Xhaka dan Le Fée akan jadi tulang punggung di fase krusial kompetisi. Nama Le Fée yang berarti "peri" itu bisa jadi penulis babak baru dalam buku sejarah Black Cats.